Langsung ke konten utama

Kisah Kembang telasih #2 : Meja Makan

 Created by :

Lembayung semburat senja warna jingga menutup siang di sebagian belahan bumi, begitu pun langit di Kota Bandar, begitu pun langit di rumah Asih, langitnya saja yang warna jingga ,kalau langit-langitnya sih tetap biru. Dinding diberi cat Biru yang mirip langit kalau cuaca cerah tak berawan. Ada juga pintu yang daunnya tidak hijau melainkan putih. Jendela juga ada ,banyak dan lebar-lebar.

Asih agak terlambat pulang sore itu karena harus singgah terlebih dahulu ke Giant ,raksasa yang baik budi luhur karena di sana kita boleh mengambil sayur ,minyak ,ayam ,buah ,cabai ,handuk ,piring ,gelas ,kue atau apa saja yang kita butuhkan ,asal bayar.

Kini ia berada di depan pintu rumah, memukul lonceng 3x lalu mengambil kunci yang ada di dalam tas selempang coklat tuanya. Tentu saja Ia mengambil kunci untuk digunakan demi membuka pintu, bukan malah menunggu seseorang membuka pintu dari dalam karena memang di dalam tidak ada orang ,Ia tinggal sendiri ,lalu kenapa Asih memukul lonceng ??? Yah mungkin karena ingin atau bisa juga hanya mau dengar "tringtringtring" ,suka-suka Asih lah karena itu kan rumahnya.

( Sumber : Dokumentasi Pribadi )


Setelah membuka pintu ,sepatu serta kaus kaki ,Ia segera menuju dapur ,meletakkan tasnya di atas meja makan juga plastik belanjaan yang berisi brokoli ,tofu ,ayam dan ada juga unsweeted soya milk ,sengaja beli yang unsweeted biar gak giyung ,karena Asih nya udah manis,

"Aku mau bikin sup tofu kesukaan Ayah ,Ayah aku rindu ... sangat".

Asih bergumam sambil menatap  Locket - Kalung yang bisa disisipi foto - miliknya ,di sana ada sosok lelah digelayuti usia yang tak lagi muda namun pancaran rona bahagianya tak kalah cemerlang dengan gadis belia yang ada di sampingnya ,menatap penuh manja.

Kini sudah setengah jam Asih mengalokasikan waktu untuk hal yang paling menyenangkan hatinya ,Memasak ,menjadi lebih menyenangkan lagi karena Ia memasak menu yang sangat disukai oleh pria yang paling Ia cinta.Supnya sudah jadi siap disantap. Tapi bukannya makan ,Asih malah menatapi saja masakan yang tampaknya lezat itu.

( Sumber : Google )

Sekarang sudah pukul 10 malam ,Asih masih duduk di sana. Masih juga belum makan. Masih menatap meratap merindu menggerutu. Ia tahu apa yang Ia rasa ,Ia tahu apa yang Ia tunggu. Lonceng di sisi kanan pintu pun tak kunjung bermelodi ,sebagai pertanda murni ada yang datang.

"Ayah aku tahu itu sudah lama ,sudah 4 tahun tepat kemarin ... tapi tak mau kah kau memaafkanku"

Kali ini Ia kembali menatap Locketnya. Dengan mata sendu sayu yang mulai melayu, lalu tertidur diiringi sayup lantunan I have a Dream dari Pocketnya. Malam ini Ia begitu merindu hingga lupa mandi ,lupa juga pada tugas yang harus diemailkan pada dosen sebelum pukul 12 nanti bahkan Ia lupa bahwasanya meja makan bukanlah tempat yang nyaman untuk tidur.


Bandar Lampung, 23 Mei 2014
Sembari telungkup di atas kasur

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Donat Onde Madre By Selpanna Cakes

Sudah pernah dibilang bahwasanya hobi tertentu jika berkonspirasi dengan hobi tertentu jua maka tidak mustahil menghasilkan effect kreasi *halaaah*. Terispirasi dari Novel Dee Lestari -Madre- yang artinya sendiri Ibu eh tapi kalau diadonan donat ini kita sebutnya "Biang" yah heum namun jika mau agak sedikit Kolosal yah sebut "Biyung" juga boleh, duh dari pada k elamaan muqadimahnya mari kita catat saja resep di bawah ini yah kawan-kawan, kalau di rumah Ibu ku sih ini Favorit sekali .... 1. Biang Tepung terigu protein tinggi (saya pakai cakra) 225 gr Garam 1/8 sdt Air 125 ml Ragi Instant 6 gr (setengah sachet kecil) 2. Bahan Adonan Tepung terigu protein tinggi 150 gr Kuning telur 1 butir Susu bubuk 20 gr (boleh diskip) Margarin/Mentega 30 gr Gula Pasir 50 gr 3. Kelengkapan Minyak untuk menggoreng Topping (sukanya aja apa yah hehehe) CARA MEMBUAT - Campur semua bahan biang hingga rata, tutup dengan kain bersih selama 90 menit. - Setelah 90...

Merayu Kemayu

Created By : Segoro ( sumber : google ) Dalam ... Denting Gending ku lihat serpihan Surga Sorak sorai mengiringi gemulai langkahnya Paras ayu ningrat mengiringi lenggok kemayunya Dalam balutan adat yang mengikat ia tetap tersenyum Sejenak ku tersirap ... Dengan kemayu Sang Ningrat Terpana melihat senyum tersungging Terjebak dalam dekapan pandangnya Terperangkapku dalam jeratan pesonanya Wahai Bidadari tak bersayap ... Ingin ku mendekatmu Wahai rembulan ... Ku merindukanmu Wahai Permaisuri hatiku ... Bertahtahlah dalam balutan cintaku Kanjeng , Izinkanku untuk tahu namamu Izinkanku melukis senyummu dalam angan Izinkanku mendekap pandangmu Izinkanku bahagia karena lembut tanganmu Dan , Izinkanku memiliki hatimu Aku tak peduli dengan adat yang mengekang Aku acuhkan tata krama yang mengikat Inginku mencuri tatapmu Inginku genggam hatimu Inginku mempersuntingmu Inginku memilikimu Karena ... Yang Kuasa dan Adat ...